Pekanbaru, Tingkap.info – Beberapa waktu lalu, pernyataan Gubernur Riau (Gubri) Abdul Wahid dalam sebuah rapat menjadi viral di media sosial. Dalam pernyataannya, ia mengaku pusing menghadapi tunda bayar dan defisit anggaran yang mencapai lebih dari Rp2,2 triliun.
"Belum pernah Riau seperti ini selama ada kepemimpinan di Riau," ungkapnya dalam rapat tersebut.
Namun yang menarik, Wakil Gubernur Riau (Wagubri) SF Hariyanto justru menyampaikan angka yang berbeda. Ia menyebut bahwa defisit anggaran tahun 2025 hanya sekitar Rp100 miliar lebih.
"Dua pemimpin ini seperti bak panggang jauh dari api. Satu bilang defisit Rp2,2 triliun lebih, yang satu lagi hanya Rp100 miliar lebih. Mana yang benar?," ujar Dr. (Cand.) Muhammad Rafi, peneliti dari Dinasti Riau Center kepada media Tingkap.Info, Minggu (23/03/2025).
Perbedaan pernyataan ini tentu membingungkan publik. Menurut Rafi, seharusnya ada mekanisme komunikasi yang lebih baik agar informasi yang disampaikan ke masyarakat tidak simpang siur.
"Mesti ada corong resmi yang menyampaikan sikap pemerintah ke publik, entah itu juru bicara atau staf ahli kek di kabupaten Kuansing yang mengangkat stafsus. Kalau begini terus, takutnya nanti Gubri bilang A, Wagubri bilang Z. Masyarakat jadi bingung mana yang harus dipercaya," tegasnya.
Di tengah polemik angka defisit ini, ada hal lain yang lebih mendesak untuk segera diperbaiki, yakni kondisi infrastruktur jalan di Riau yang semakin hancur.
"Jalan berlubang di Riau makin parah, dan ini sudah banyak memakan korban. Sebentar lagi musim mudik Lebaran, bagaimana jika jalan tetap dibiarkan rusak seperti ini? Apa kata pengendara yang melintas di jalur Riau?,"ungkap Rafi.
Sebagai provinsi yang kaya sumber daya alam, sudah seharusnya Riau memiliki infrastruktur jalan yang layak.
"Negeri kaya raya, tapi jalannya hancur. Ini ironi yang harus segera diperbaiki," pungkasnya.
Laporan: Fadlil
Editor: Sang